Ciri Ciri Kata Majemuk dan Pengklasifikasiannya

ciri - ciri Kata Majemuk

Dalam menggunakan bahasa Indonesia, kita akan mengenal adanya berbagai bentuk kata. Salah satu kata yang sering digunakan adalah kata majemuk. Kata majemuk dapat dikenali dari ciri-cirinya yang khas. Berikut akan kita bahas mengenai ciri-ciri kata majemuk dan dilengkapi dengan klasifikasi kata majemuk tersebut, beserta contohnya.

Pengertian Kata Majemuk

Kata Majemuk adalah gabungan dari dua kata (morfem) dasar yang hasil gabungan katanya memiliki makna baru, terlepas dari kata dasar pembentuknya tadi. Kata majemuk ini berbeda dengan frasa ya. Frasa juga merupakan gabungan kata, akan tetapi, dalam frasa, makna kata gabungan yang terbentuk masih berkaitan dengan kata dasarnya. 

Pada frasa, morfem dasar yang membentuknya juga memiliki perbedaan tingkat, dengan satu kata sebagai inti dan kata lainnya menerangkan atau menjelaskan dari inti kata tersebut. Hal ini berbeda dengan kata majemuk, yang kedua katanya memiliki kedudukan sama.

Jadi, kita harus cukup jeli dalam mengenali kata majemuk serta membedakannya dengan frasa. Agar lebih jelas lagi, kita bisa melihat pada ciri-ciri kata majemuk yang diuraikan berikut ini.

Baca juga: Kalimat Efektif: Pengertian, Syarat dan Ciri Ciri

Ciri-ciri Kata Majemuk

1# Kata Majemuk Tidak Bisa Disisipi
Ciri khas paling utama dari kata majemuk adalah gabungan kata ini tidak dapat disisipi dengan kata lainnya. Jika gabungan kata majemuk disisipi dengan kata lain, makna kata majemuk akan berubah atau hilang. Jadi, jika masih bingung apakah suatu gabungan kata termasuk kata majemuk atau frasa, cobalah sisipi dengan kata dasar lain.

Jika maknanya jadi berubah, berarti kata majemuk. Akan tetapi, jika maknanya masih sama, berarti gabungan kata tersebut merupakan frasa. 

Contoh: 
“kacamata” = Jika disisipi menjadi “kaca dari mata”, maknanya akan berubah. Berarti ini adalah kata majemuk.
“sakit mata” = jika disisipi menjadi “sakit pada mata”, maknanya masih sama, berarti ini adalah frasa.

2# Kata Majemuk Tidak Dapat Diperluas Secara Terpisah
Perluasan kata berarti ketika suatu kata atau gabungan kata diberi imbuhan atau afiks. Jika suatu gabungan kata merupakan kata majemuk, kata tersebut tidak bisa diberi tambahan imbuhan di satu kata saja. Jika hendak memberi imbuhan, imbuhan harus melekat di kedua kata pembentuknya.

Ini berbeda dengan frasa yang salah satu katanya dapat diberi imbuhan, sementara kata lainnya tidak. 

Contoh: 
“kereta api” = tidak dapat diperluas menjadi “perkereta api” atau “kereta apian”. Jika hendak diberi imbuhan, yang dapat adalah “perkeretaapian” sehingga ini adalah kata majemuk.

3# Kata Majemuk Posisinya Tidak Dapat Ditukar
Gabungan kata yang membentuk kata majemuk posisinya tidak dapat ditukar atau bersifat tetap. Jadi, kita tidak bisa membalik tempat katanya, karena maknanya akan berubah. Berbeda dengan frasa yang masih bisa ditukar masing-masing kata pembentuknya.

Contoh: 
“angkat kaki” = artinya adalah ‘pergi’. Ketika posisinya ditukar menjadi “kaki angkat” maknanya akan berubah atau hilang. Jadi, kata “angkat kaki” adalah kata majemuk.

Cara Penulisan Kata Majemuk

Penulisan kata majemuk bisa dibagi dalam dua cara, yakni ditulis secara “terpisah” dan “digabung” dari masing-masing morfem dasarnya.
Kata majemuk yang ditulis terpisah masing-masing morfem dasarnya disebut sebagai kata majemuk tidak senyawa. Adapun kata majemuk yang kata-kata dasarnya ditulis bergabung, disebut sebagai kata majemuk senyawa.

Contoh :
Majemuk Senyawa : matahari, kacamata, saputangan, dukacita, sukacita, segitiga
Majemuk Tidak Senyawa : kereta api,  rumah sakit, mata kaki, harga diri

Baca juga: Pengertian dan Ciri – Ciri Teks Deskripsi

Makna Kata Majemuk

Kata gabungan berupa kata majemuk memiliki makna yang khas. Adapun makna kata majemuk ini dapat dibagi dalam dua kelompok, yakni makna idiom dan makna semi idiom.

# Kata Majemuk Bermakna Idiom
Sebuah kata majemuk dikatakan memiliki makna sebagai idiom ketika makna dari tiap-tiap kata dasar yang membentuknya hilang. Jadi, tidak ada salah satu kata dasar yang mengarah pada makna baru yang dibentuk dari kata majemuk tersebut. Sederhananya, idiom ini adalah makna kata yang dihasilkan sama sekali berbeda jauh dengan kata-kata dasar yang membentuknya.
Contoh: “harga diri” dan “matahari”

# Kata Majemuk Bermakna Semi-idiom
Kata majemuk yang memiliki makna semi idiom berarti kita masih bisa menemukan makna asli dari salah satu kata dasar pembentuk gabungan kata tersebut. Hanya saja, makna yang dihasilkan sedikit berubah atau bergeser.
Contoh kata majemuk: “rumah sakit” dan “buku tulis”.

Ciri Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif

kalimat aktif dan kalimat pasif

Ada berbagai bentuk kalimat yang kita kenal dalam pelajaran bahasa Indonesia. Di antara bentuk kalimat yang paling banyak digunakan dan dipelajari adalah kalimat aktif dan kalimat pasif. Saya yakin, kamu pasti pernah mendengar istilah kalimat pasif dan kalimat aktif, bukan?

Kalimat aktif dan kalimat pasif dibedakan berdasarkan pola kalimatnya, terutama pada ciri khas hubungan antara subjek dan predikatnya. Untuk bisa mengenali perbedaan kalimat pasif dan kalimat aktif, tentunya kita harus paham pengertian dan ciri-ciri kalimat aktif dan kalimat pasif. Untuk itu, kita akan mengulas pengertiannya, ciri-cirinya, juga bentuk turunan dari kalimat pasif dan kalimat aktif ini.

Pengertian Kalimat Aktif dan Pasif

Pengertian kalimat aktif adalah kalimat yang mempunyai subjek berupa pelaku atau yang melakukan pekerjaan atau kejadian. Biasanya, dikatakan juga predikat dari kalimat aktif adalah “mengenai pekerjaan” sehingga subjeknya bertindak aktif melakukan sesuatu.

Contoh kalimat aktif :
Lina membeli permen
Subjek = Lina
Predikat = membeli
Objek = permen

Kalimat aktif di atas tampak bahwa predikatnya menunjukkan kegiatan subjek yang aktif, yakni membeli.

Sedangkan kalimat pasif pengertiannya adalah berupa kalimat yang subjeknya berupa pihak yang dikenai pekerjaan atau bertindak sebagai objek dari suatu pekerjaan. Dengan kata lain, kalimat pasif memiliki subjek yang bersifat pasif atau tidak bertindak.

Contoh Kalimat Pasif:
Permen dibeli Lisa.
Subjek = permen
Predikat = dibeli
Objek = Lisa

Kalimat pasif di atas tampak bahwa predikatnya menunjukkan bahwa subjek tidak melakukan kegiatan atau pasif atau subjeknya dikenai pekerjaan.

Baca juga: Pengertian Konjungsi, Macam Macam Konjungsi dan Contohnya

Ciri - ciri Kalimat Aktif

Kalimat aktif memiliki ciri-ciri khusus untuk membedakan dengan kalimat pasif. Berikut adalah ciri-ciri kalimat aktif secara umum :

1# Predikatnya Cenderung Memiliki Imbuhan me- atau ber-
Dalam kalimat aktif, cara paling mudah mengenalinya adalah melihat dari bentuk kata predikatnya. Ketika predikat kalimat memiliki kata dengan imbuhan me- atau ber-, bisa dipastikan bahwa kalimat tersebut merupakan kalimat aktif. Ini karena pada kata dengan imbuhan me- atau ber- akan menunjukkan bahwa kalimat tersebut melakukan pekerjaan atau aktif melakukan tindakan.

Contoh:
Lisa memotong sayur bayam di dapur.
Subjek = Lisa
Predikat = memotong
Objek = sayur bayam
Keterangan = di dapur

2# Predikatnya Bisa Berupa Kata Aus
Suatu kalimat aktif bisa jadi tidak menggunakan imbuhan me- atau ber-. Ciri khas lain ketika suatu kalimat aktif tidak menggunakan imbuhan tersebut adalah adanya kata aus sebagai predikatnya. Kata aus pada kalimat aktif juga menunjukkan bahwa kalimat tersebut subjeknya melakukan pekerjaan atau aktif. 

Kata aus sendiri adalah kata yang tidak perlu mendapatkan imbuhan sebagai predikat dalam suatu kalimat. Maksudnya, jika kata tersebut diberi predikat, hasilnya justru akan merubah makna kata menjadi tidak sesuai dengan maksud sebelumnya. Atau berubah maknanya.

Karenanya, kata aus dalam predikat ini tidak membutuhkan imbuhan untuk menunjukkan bahwa subjeknya melakukan pekerjaan. Hanya saja, ketika suatu kalimat aktif menggunakan kata aus sebagai predikatnya, biasanya kalimat aktif tersebut tidak dapat diubah menjadi kalimat pasif.

Contoh kata aus misalnya mandi, makan, tidur, tinggal. Misalnya saja kata-kata aus tersebut diberi imbuhan me- atau ber- dalam kalimat aktif, maka makna katanya justru akan berubah atau tidak pas, sehingga sebaiknya tidak diberi imbuhan saja.

Contoh kalimat aktif dengan kata aus :
Adik tinggal di rumah bersama Ibu.
Subjek = adik
Predikat = tinggal (kata aus)
Keterangan = di rumah bersama Ibu.

Baca juga: Unsur Unsur Intrinsik Puisi

Ciri - ciri Kalimat Pasif

Ada beberapa ciri kalimat pasif yang bisa kita gunakan untuk mengenali kalimat tersebut sebagai kalimat pasif. Berikut adalah ciri-ciri kalimat pasif :

1# Predikat Cenderung Berimbuhan di-, ter-, atau ke-an
Kalimat yang menggunakan predikat dengan imbuhan di-, ter-, atau ke-an, berarti kalimat tersebut merupakan kalimat pasif. Sebab, kata-kata dengan imbuhan tersebut menunjukkan bahwa predikat tersebut memempatkan posisi subjek sebagai pihak yang dikenai pekerjaan atau pasif. 

Contoh :
Sayur itu dimakan Adik sampai tak tersisa.
Subjek = sayur itu
Predikat = dimakan
Objek = Adik 
Keterangan = Sampai tak tersisa

2# Memiliki Pronomina Persona yang Bergabung dengan Predikat
Ciri kalimat pasif lainnya, jika tidak menggunakan ketiga imbuhan di atas, adalah menggunakan pronomina persona yang bergabung dengan predikatnya. Pronomina persona merupakan bentuk kata ganti orang pertama, kedua atau ketiga yang diwujudkan dalam kata –ku, -kau, atau –nya.

Pronomina persona dapat merujuk pada posisi objek maupun subjek. Namun, yang perlu diperhatikan adalah pelekatan pronomina persona tadi yang bergabung dengan predikat. Jika predikat mendapat gabungan pronomina persona, bisa dipastikan bahwa kalimat tersebut adalah kalimat pasif.

Contoh :
Sop itu dicicipinya sendiri.
Subjek = sop itu
Predikat = dicicipinya (dengan pronomina persona)
Sendiri = keterangan cara

Kalimat pasif transitif dan kalimat aktif transitif

Kalimat pasif dan kalimat aktif secara umum memiliki dua bentuk yang sama, yakni yang bisa diubah bentuk ke bentuk kebalikannya. Misal dari kalimat aktif menjadi kalimat pasif atau dari kalimat pasif menjadi kalimat aktif. Kalimat aktif dan pasif yang bisa diubah bentuk ini disebut sebagai kalimat aktif transitif dan kalimat pasif transitif.

Kedua bentuk kalimat ini bisa saling saling diubah karena memiliki pola yang sama, yakni S-P-O. Selain itu, yang paling mendasar adalah pada objek dan subjek yang bisa saling bertukar. Biasanya, kalimat aktif dan pasif bisa saling diubah bentuknya ketika predikatnya merupakan kalimat dengan imbuhan.

Contoh :
Aktif = Lina membungkus kado.
Pasif = Kado dibungkus Lina.

Contoh 2:
Pasif = Baju itu disetrika oleh Ibu.
Aktif = Ibu menyetrika baju itu.

Kalimat aktif intransitif dan kalimat pasif intransitif

Kalimat aktif dan pasif ada juga yang tidak bisa diubah bentuknya ke bentuk kalimat kebalikannya. Dalam artian, kalimat aktif yang tidak bisa diubah menjadi kalimat pasif dan kalimat pasif yang tidak bisa diubah menjadi kalimat aktif.

Jika beberapa kalimat aktif dan pasif dapat saling diubah bentuknya, ada juga kalimat aktif yang tidak bisa diubah ke bentuk kalimat pasif atau sebaliknya. Pada kalimat aktif dan pasif yang tidak bisa diubah ke bentuk lainnya, disebut sebagai kalimat aktif intransitif dan kalimat pasif intransitif.

Berarti pada model kalimat pasif intransitif maupun aktif intransitif ini tidak memiliki objek atau pelengkap sehingga tidak bisa diubah ke betuk kebalikannya. Untuk itu, kita harus bisa mengenali bentuk kalimat pasif atau aktif yang tidak bisa diubah bentuk ini. 

Contoh Kalimat Aktif Intrasitif:
Adik menguap sejak tadi.
Adik = subjek
Menguap = predikat
Sejak tadi = Ket. waktu

Contoh Kalimat Pasif Intrasifif:
Buku itu sedang dipinjam.
Buku itu = subjek
Dipinjam = predikat
Kedua contoh kalimat di atas tidak memiliki objek sehingga tidak bisa diubah ke bentuk kalimat kebalikannya.

Tata Cara Penggunaan Tanda Baca yang Benar dan Contohnya

tanda baca

Dalam sebuah kalimat, kita akan menemukan kumpulan kata dan disertai dengan tanda bacanya. Tanda baca dalam sebuah kalimat memiliki peran yang sangat penting. Sebab, dengan tanda baca inilah kita bisa memahami maksud sebuah kalimat atau paragraf dengan lebih mudah.

Jadi, penggunaan tanda baca penting untuk diperhatikan ketika kita menulis. Ada berbagai aturan tata cara penulisan tanda baca dalam ejaan Bahasa Indonesia yang harus diperhatikan agar kita bisa menuliskannya dengan baik dan benar. Apabila penulisan tanda baca dilakukan secara keliru, hasilnya bisa membingungkan pembaca atau bahkan jadi mengubah makna tulisan.

Ada berbagai bentuk tanda baca yang biasa digunakan dalam ejaan Bahasa Indonesia. Beberapa penggunaan tanda baca tersebut akan kita bahas pada artikel kali ini. Agar lebih jelas, di tiap-tiap penjelasan tentang penggunaannya akan diberikan contoh sehingga lebih mudah dipahami.

# Penggunaan Tanda Baca Titik (.)
Tata cara peletakkan tanda baca titik yang paling umum adalah untuk menandai akhir rangkaian kata. 

Contoh: 
• Diva pandai menyanyi dan menari tradisional.
• Jika tidak ada halangan, saya akan ke rumah Kakek.
Peletakkan tanda baca titik lainnya adalah mengakhiri singkatan yang belum resmi. 

Contoh : 
• hlm. (halaman)
• s.d. (sampai dengan)
• yth. (yang terhormat)
• a.n. (atas nama)

Peletakkan tanda titik juga berguna membatasi singkatan pada gelar sarjana terhadap bidang yang diambil. 

Contoh : 
• S.Pd (Sarjana Pendidikan)
• S.H. (Sarjana Hukum)
• S.Sos. (Sarjana Sosial)
• S.E (Sarjana Ekonomi)

Tanda titik diletakkan pada bagian akhir angka atau huruf di dalam laporan atau tabel.

Contoh :
• Tabel 3.1. Nilai Penjualan Tahun 2010-2018.
Peletakkan tanda titik sebagai pembatas antara satu keterangan lain dalam daftar pustaka.

Contoh: 
• Weni, Diah. 2015. Cinta Bahasa Indonesia. Jakarta: Bina Aksara Home.
Tanda titik diletakkan sebagai pembatas antara angka dalam bilangan ribuan serta kelipatannya

Contoh: 
• Lia harus membayar Rp 25.000.000. untuk melunasi kekurangan biaya kuliahnya.
• Volume waduk ini tinggal 15.000 kubik.
Tanda titik digunakan untuk menandai batas antara jam dan menit dalam hitungan waktu.

Contoh :
• Undangan untuk orang tua wali murid dimulai pukul 09.00.
• Pukul 15.00 saya sudah tiba di kantor Bupati.

Penggunaan tanda titik (.) memang cukup banyak dan sering digunakan. Akan tetapi, perlu diketahui juga bahwa tanda titik ini tidak untuk digunakan dalam penulisan judul atau keterangan pengirim serta tujuan yang ada dalam surat.

Baca juga: Kalimat Efektif: Pengertian, Syarat dan Ciri Ciri

Penulisan Tanda Tanya (?)
Penggunaan tanda tanya diletakkan di akhir kalimat pada kalimat tanya, untuk menunjukkan ciri khas kalimat tanya. Jika sudah terdapat tanda tanya, tidak diperlukan lagi tanda titik.

Contoh:
• Dimana saya dapat menemui kepala sekolah?
• Kenapa Anda terlambat mengikuti tes wawancara?
• Anda akan ikut bersama mereka, bukan?

Penggunaan Tanda Seru (!)
Tanda seru (!) diletakkan di bagian akhir kalimat sebagai penutup kalimat untuk menggantikan tanda titik pada kalimat perintah atau kalimat seruan.

Contoh :
• Buka Topimu!
• Buanglah sampah pada tempatnya!
• Buka pintu, tutup kembali!

Penggunaan Tanda Koma (,)
Penggunaan tanda koma selalu berada di tengah-tengah kalimat, tidak bisa diletakkan di awal maupun akhir kalimat. Peletakkan tanda koma dapat sebagai pemerinci pada kalimat yang di dalamnya mempunyai subjek, objek, dan keterangan lebih dari dua. Untuk memisahkan rincian, tanda koma diletakkan di bagian akhir kata yang dirinci dan di kata terakhir diletakkan sebelum kata yang menjadi kata hubung.

Contoh: 
• Sebagai bahan praktikum, Lila membutuhkan kapas, air, gelas dan biji kedelai.
• Adik meminta pensil, buku gambar, dan cat air.

Penggunaan tanda koma untuk memisahkan anak kalimat dengan induk kalimat yang terletak sesudahnya.

Contoh: 
• Karena hari hujan, Dini tidak berangkat les musik.
• Untuk memenuhi janjianya, Dita rela melewati hujan menemui Dini.

Penggunaan tanda koma untuk memisahkan petikan kalimat langsung dengan kalimat utamanya. Untuk petikan yang berada di belakang pengujar, peletakkan tanda koma berada sebelum petikan langsung. Sebaliknya, apabila petikan kalimat langsung mendahului pengujar, peletakkan tanda koma berada di bagian akhir petikan, sebelum tanda kutip (“_”).

Contoh:
• Ibu guru menesahati kami “Kalian harus rajin belajar untuk menghadapi ujian.”
• “Jangan sampai terlambat saat ujian ya,” Kata Bu Guru Lily menasehati kami.
Tanda koma digunakan untuk memisahkan nama dengan gelar yang mengikutinya.

Contoh: 
• Pak Sandi telah menyelesaikan studi S2nya dan kini namanya menjadi Sandi Diaga, M.Pd.

Penggunaan tanda koma untuk memisahkan nama pengarang yang dibalik di dalam penulisan daftar pustaka.

Contoh: 
• Ros, Diani. 2016. Aku Cinta Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Media.

Penggunaan tanda koma untuk membatasi satu keterangan dengan keterangan lainnya yang berada di dalam catatan kaki.

Contoh: 
• Liliana Sindia, Tata Bahasa Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka Baru, 191), hlm. 71.

Penggunaan tanda koma untuk mengapit keterangan tambahan yang ada dalam kalimat.

Contoh:
• Kakek yang berdiri di ujung jalan itu, Mbah Rajin, sudah berusia 101 tahun.

Penggunaan Tanda Titik Dua (:)
Penggunaan tanda baca titik dua (:) dapat untuk pembatas keterangan dengan rinciannya.

Contoh: 
• Alat-alat yang perlu disiapkan untuk acara study tour berupa : pakaian ganti, obat pribadi, jas almamater, sepatu formal dan kartu identitas diri.

Tanda titik dua juga dipakai untuk penanda batas dialog yang ada pada naskah drama antara pengujar dan kalimat yang diucapkan.

Contoh:
• Dini : “Aku berani bersumpah bahwa aku sama sekali tidak tahu.”
• Rodi : “Aku tidak percaya janji-janji yang kau ucapkan.”

Tanda titik dua digunakan sebagai penanda batas antara penerbit dengan kota penerbit dalam penulisan daftar pustaka.

Contoh :
• Dila Respati. 2019. Aku Cinta Bahasa Indonesia. Jakarta : Gusnia Pintar.
Tanda titik dua dipakai untuk membatasi keterangan yang ada di dalam tulisan yang bersifat laporan.

Contoh :
• Nama lengkap : Diana Worori
• NPM : 2019123123
• Program studi : Pendidikan Bahasa Indonesia

Penggunaan Tanda Titik Koma (;)
Penggunaan tanda baca titik koma (;) memiliki tata cara peletakkan yang sama dengan tanda titik dua, akan tetapi baru bisa digunakan ketika terdapat dua penempatan tanda koma, yang salah satunya memiliki sifat lebih tinggi daripada yang lainnya atau pada kalimat majemuk. Adapun peletakkan tanda titik koma diletakkan pada kalimat yang sifatnya lebih tinggi. 

Contoh: 
• Setelah nama Anda terdaftar secara online; Anda harus segera menyiapkan berkas asli pendaftaran, meliputi : KTP, Ijazah, sertifikat, kartu kuning dan surat keterangan catatan kepolisian.

Penggunaan Tanda Hubung (-)
Penggunaan tanda hubung adalah untuk menghubungkan kata-kata yang mengalami pengulangan.

Contoh: 
• Murid-murid sudah siap mengikuti upacara bendera.
Penggunaan tanda hubung untuk menghubungkan imbuhan bahasa Indonesia dengan kata asing.

Contoh: 
• Setelah mendapatkan akun, berkas yang dibutuhkan harus segera di-upload sesuai ketentuan.

Penggunaan Tanda Pisah (—)
Penggunaan tanda pisah sebagai pengapit antara keterangan tambahan pada suatu kalimat.

Contoh :
• Dia membutuhkan asupan gizi seimbang –empat sehat lima sempurna—untuk mempercepat pemulihan diri. 
Tanda pisah dipakai menggantikan kata sampai atau hingga yang terdapat pada keterangan waktu.

Contoh:  
• Perayaan wisuda fakultas direncanakan akan berlangsung pukul 19.00—21.00.

Penggunaan Tanda Petik (‘…’)
Penggunaan tanda petik dipakai untuk mengapit istilah yang mempunyai makna konotatif atau berarti tidak sebenarnya.

Contoh :
• Lia itu sudah seperti ‘tangan kanan’ bagi perusahaan.
Tanda petik digunakan mengapit makna kata konotatif yang langsung dicantumkan di dalam kalimat.

Contoh :
• Kamu jangan dekat-dekat dengan anak yang panjang tangan ‘suka mencuri’ itu.

Penggunaan Tanda Kutip (“…”)
Tanda kutip digunakan untuk mengapit judul makalah, judul rubrik, bab buku, serta judul karangan lain yang belum diterbitkan.

Contoh: 
• Lia sedang membaca novel “Air Mata Surga” di dalam kamarnya.
Penggunaan tanda kutip untuk mengapit kalimat langsung.

Contoh: 
• Bu Rani menyampaikan, “Semua siswa tidak boleh datang terlambat saat ujian.”

Penggunaan Tanda Garis Miring (/)
Penggunaan tanda garis miring dalam kaidah ejaan bahasa Indonesia biasanya bermanfaat dalam surat menyurat. Tanda garis miring berguna untuk pembatas dalam nomor surat, serta untuk menggantikan kata tiap.

Contoh :
• Nomor : 171/FKIP/09/19
• Kuota untuk penerimaan mahasiswa baru tahun ini adalah 500/ prodi.

Unsur Intrinsik Puisi

unsur intrinsik puisi

Kata puisi tentu bukan hal asing, bukan? Puisi termasuk jenis karya sastra yang banyak dipelajari dan banyak disajikan di khayalak umum. Kita dapat dengan mudah menemukan puisi di berbagai surat kabar atau pun majalah. 

Untuk itu, penting kiranya untuk bisa mempelajari lebih dalam mengenai puisi dan unsur-unsur yang ada di dalamnya. Sebab, dalam setiap karya sastra, pasti dibentuk dari unsur-unsur tertentu yang mengembangkannya. 

Kali ini, kita akan mengulas terkait unsur intrinsik puisi. Perlu diketahui bahwa unsur intrinsik puisi berbeda dari unsur intrinsik prosa. Jadi perlu diperhatikan secara seksama ya.

2 Jenis Unsur Intrinsik Puisi

Unsur intrinsik puisi secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu berupa unsur batin dan unsur fisik. Berikut penjelasannya.

# Unsur Batin

Unsur intrinsik puisi berupa unsur batin juga disebut sebagai unsur isi. Unsur isi ini di dalamnya mencakup permasalahan dan emosi yang pada karya sastra. Di dalam kelompok unsur batin ini, terdapat beberapa aspek atau unsur, sebagai berikut :

Tema
Dalam sebuah puisi, pasti akan ada satu tema yang dibahas secara fokus. Tema inilah yang dibicarakan dalam sebuah puisi dari awal sampai akhir, sepanjang apa pun puisinya. Tema dalam sebuah puisi ini merupakan persoalan atau ide utama yang disajikan dalam tulisan. Contoh tema puisi bisa berupa tema tentang cinta, persahabatan, perjuanagan, nasionalisme, kemanusiaan, perempuan, atau masalah sosial.

Amanat
Amanat juga menjadi unsur utama yang berusaha disampaikan dalam sebuah puisi. Amanat berarti sebuah nasihat atau pesan yang hendak disampaikan yang bisa ditangkap dari perbincangan yang ada dalam puisi. Contohnya, ketika suatu puisi bertema lingkungan hidup disampaikan, kita bisa memperoleh amanat di dalamnya berupa ajakan agar kita bisa menjaga kelestarian lingkungan hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Emosi
Puisi memiliki kekhasan tersendiri dibanding prosa, karena karya sastra di sini memiliki emosi yang lebih dalam. Puisi berupaya menyampaikan perasaan penulis melalui letupan-letupan emosi yang dituangkan dalam setiap kata-katanya. Ini membuat emosi puisi kental dengan perasaan-perasaan yang bisa mudah ditangkap pembacanya. 

Emosi dalam puisi biasanya juga menunjukkan bagaimana perasaan pengarang terhadap tema yang diperbincangkan dalam puisi. Misalnya, puisi dapat menunjukkan emosi marah dan kecewa ketika memperbincangkan tentang masalah bullying dan tawuran.

Tonasi
Dalam puisi, pembaca dapat menangkap adanya tonasi yang menunjukkan perasaan dalam puisi. Tonasi ini berupa nada seperti apa yang berusaha diungkapkan oleh pembuat puisi. Tonasi dalam sebuah puisi bisa berupa nada-nada yang ringan dengan kesan menyindir, meski sebetulnya ada emosi rasa kecewa di dalamnya. Tonasi juga bisa mengarahkan pembaca untuk ikut mengamini terhadap apa yang disampaika dalam puisi tersebut ketika puisi disampaikan dengan tonasi persuasif.

# Unsur Fisik

Unsur intrinsik puisi yang kedua adalah berupa unsur fisik. Unsur batin dan unsur fisik dari puisi memiliki karakter yang berbeda. Jika unsur batin banyak melihat pada hal-hal yang ditangkap secara absurd, unsur fisik lebih cenderung pada unsur pembangun puisi berupa struktur. Dari unsur fisik inilah, kita bisa mengenali ciri khas puisi dibanding karya sastra lain, seperti prosa.

Diksi
Puisi sering terkesan memiliki bahasa sastra yang mendalam dengan pilihan kata-kata cenderung tidak umum. Pilihan-pilihan kata yang menarik dan unik di dalam puisi inilah yang disebut sebagai diksi. 

Gaya Bahasa
Puisi biasanya memiliki rangkaian kata yang berbeda dibanding bahasa yang biasa digunakan sehari-hari atau bahasa dalam prosa. Rangkaian kata dalam puisi sering bersifat konotatif, berlebihan atau justru merendahkan diri. Hal inilah yang disebut sebagai gaya bahasa sebagai unsur fisik puisi. Tiap penulis puisi biasanya memiliki karakter gaya bahasa sendiri dan sering menampilkan gaya bahasa atau majas di dalam puisinya, seperti dengan majas personifikasi, hiperbola, metafora, eufemisme, juga majas ironi.

Rima
Rima merupakan salah satu unsur intriksik puisi yang juga menunjukkan ciri-ciri puisi secara khas. Sebab, dengan adanya rima inilah, puisi lebih mudah dikenali. Rima sendiri adalah kesamaan nada atau bunyi yang ada di bagian-bagian puisi, baik di larik awal maupun akhir, juga bisa terdapat dalam antar kata di tiap barisna. Rima yang kuat dalam puisi banyak ditemukan pada jenis puisi lama atau klasik, sementara puisi modern cenderung tidak banyak memainkan rima.

Tipografi
Tidak hanya memainkan kata-kata saja, puisi juga dapat dikenali dari bentuknya atau tipografinya. Sebab, puisi sering disajikan dengan tipografi atau bentuk secara kasat mata yang khas dan unik. Puisi ini terkadang dibuat dalam bentuk baris-baris, tapi bisa juga disusun dalam bentuk fragmen-fragmen menyerupai apel, zigzag, atau bentuk topografi lain.

Demikianlah unsur-unsur intrinsik puisi yang telah kita bahas kali ini. Unsur-unsur intrinsik puisi ini juga dapat menjadi ciri-ciri puisi karena dari unsur ini, kita bisa membedakan puisi dengan karya sastra lain, seperti prosa.

Kalimat Efektif: Pengertian, Syarat dan Ciri Ciri

Kalimat Efektif

Bagi kalian yang terbiasa menulis, tentu tidak akan kesulitan membuat sebuah kalimat. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kalimat tersebut sudah efektif atau belum? 

Secara sederhana kalimat terdiri dari subjek, prediket dan objek dengan diakhiri tanda baca titik, tanya maupun seru. Sepertinya sederhana, tetapi apabila kita menempatkan tanda baca maupun SPOK dengan benar, maka kalimat tersebut menjadi tidak efektif.

Pengertian Kalimat Efektif

Kalimat efektif merupakan susunan kata yang mengikuti kaidah kebahasaan yang tepat. Dalam hal ini, kita menggunakan kaidah bahasa Indonesia menurut Ejaan Bahasa Indonesia atau EBI.

Syarat Kalimat Efektif

Terdapat empat syarat agar sebuah kalimat dapat dikatakan efektif ataupun tidak.

1. Sesuai EBI
Kalimat efektif wajib memakai ejaan atau tanda baca dengan benar. Hal itu juga termasuk kata baku, yang tentunya harus diperhatikan ketepatan pemakaiannya.

2. Sistematis
Kalimat yang paling sederhana terdiri dari subjek dan predikat. Kalimat tersebut dapat diberi penambahan objek, pelengkap hingga keterangan. Sehingga agar suatu kalimat dapat menjadi efektif, selalu gunakan pola SP, SPO, ataupun SPOK. Dengan yang sistematis seperti itu, suatu kalimat lebih mudah dipahami.

3. Tidak Boros dan Bertele-tele
Sering kali yang menjadi masalah atau kendala penulis adalah kalimat yang bertele – tele. Penjelasan yang tidak langsung pada inti persoalan. Sehingga terkadang pembaca tidak fokus pada pembahasan penulis.

4. Tidak Ambigu
Syarat yang terakhir adalah kalimat yang tidak ambigu. Kalimat efektif tidak akan menimbulkan multipersepsi pada pembaca. Dengan susunan yang sistematis lebih mudah membuat suatu kalimat yang tidak ambigu.

Ciri - ciri Kalimat Efektif

Setelah membahas empat syarat kalimat efektif, maka pembahasan selanjutnya mengenai ciri dari kalimat efektif. Setidaknya terdapat lima ciri kalimat efektif.

1. Kesepadanan Struktur
Kelengkapan struktur dan penggunaannya merupakan hal pertama yang musti diperhatikan. Hal tersebut yang dikatakan dengan kesepadanan struktur. Terdapat beberapa hal yang berhubungan dengan ciri kesepadanan struktur.

1.a. Kalimat harus memiliki unsur klausa minimal yang lengkap, setidaknya subjek dan predikat.

1.b. Jangan meletakkan kata depan atau preposisi di depan subjek karena akan membiaskan pelaku di dalam kalimat tersebut.

Contoh kalimat efektif dan tidak efektif:
Bagi semua hewan kebun binatang mendapat makan setiap hari. (tidak efektif)
Semua hewan kebun binatang mendapat makan setiap hari. (efektif)

1.c. Perhatikan penggunaan konjungsi di depan predikat karena dapat menjadi perluasan dari subjek.

Contoh:
Budi yang pergi meninggalkan Susi. (tidak efektif)
Budi pergi meninggalkan Susi. (efektif)

1.d. Tidak memiliki subjek ganda, bukan berarti subjek tidak diperbolehkan lebih dari satu. Namun, fokus ke arah mereduksi subjek yang sama.

Contoh:
Joko sakit sehingga Joko tidak dapat masuk sekolah. (tidak efektif)
Joko sakit sehingga tidak dapat masuk sekolah. (efektif)

2. Kehematan Kata
Salah satu syarat kalimat efektif adalah tidak bertele – tele. Agar hal tersebut dapat tercapai, ada 2 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, berhubungan dengan kata jamak. Kedua, berhubungan dengan kata bersinonim. 

Contoh Kata Jamak:
Para guru – guru sekolah dasar sedang mengikuti seminar nasional. (tidak efektif)
Para guru sekolah dasar sedang mengikuti seminar nasional. (efektif)

Dari contoh di atas kita dapat melihat bahwa kata para telah menunjukkan jumlah jamak, sedangkan guru guru juga menunjukan jumlah guru. Sehingga lebih tepat apabila kata guru dihilangkan dan menggunakan kata para untuk menunjukan jumlah lebih dari satu.

Contoh Kata Sinonim:
Budi masuk ke dalam ruang operasi. (tidak efektif)
Budi masuk ruang operasi. (efektif)

Ketidakefektifan terjadi karena kata masuk dan frasa ke dalam sama-sama menunjukkan arti yang sama. Namun, kata masuk lebih tepat membentuk kalimat efektif karena sifatnya yang merupakan kata kerja dan dapat menjadi predikat. 

Namun, jika menggunakan ke dalam dan menghilangkan kata masuk — sehingga menjadi Budi ke dalam ruang operasi — kalimat tersebut akan kehilangan predikatnya dan tidak dapat dikatakan kalimat efektif menurut prinsip kesepadanan struktur.

3. Kesejajaran Bentuk
Selanjutnya menyangkut soal imbuhan dalam kata - kata yang ada di kalimat, sesuai kedudukannya pada kalimat tersebut. Kalimat efektif haruslah berimbuhan pararel dan konsisten. Apabila pada sebuah fungsi digunakan imbuhan me-, maka selanjutnya imbuhan yang sama digunakan pada fungsi yang sama.

Contoh:
Hal yang harus diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan pengolahannya. (tidak efektif)
Hal yang harus diperhatikan soal sampah adalah cara membuang, memilah, dan mengolahnya. (efektif)

4. Ketegasan Makna
Jika dalam beberapa contoh subjek selalu diletakkan di depan, padahal tidak selamanya seperti itu. Namun demikian peletakan subjek sebaiknya selalu mendahului predikat.

Akan tetapi, dalam beberapa kasus tertentu, kita dapat meletakkan keterangan di awal kalimat untuk memberi efek penegasan. Hal tersebut dilakukan agar pembaca dapat langsung mengerti gagasan utama dari kalimat tersebut. 
Penegasan kalimat dapat dijumpai pada jenis kalimat perintah, larangan, ataupun anjuran pada umumnya diikuti partikel lah atau pun.

Contoh:
Rio sapulah lantai rumah agar selalu bersih! (tidak efektif)
Sapulah lantai rumahmu agar selalu bersih! (efektif)

5. Kelogisan Kalimat
Ciri yang terakhir berhubungan dengan kelogisan kalimat yang kita buat. Pada dasarnya kelogisan ini bertujuan agar kalimat yang kita buat tidak ambigu. Oleh sebab itu, kalimat yang dibuat harus memiliki ide yang mudah dimengerti serta masuk akal.

Contoh:
Kepada Bapak Rektor, waktu dan tempat kami persilakan. (tidak efektif)
Bapak Rektor dipersilakan menyampaikan pidatonya sekarang. (efektif)

Pengertian Konjungsi, Macam Macam Konjungsi dan Contohnya

Dalam sebuah kalimat, kita akan sering menjumpai konjungsi. Konjungsi ini digunakan untuk membuat kalimat menjadi lebih mudah dipahami. Lalu, sudah tahukah kamu apa pengertian konjungi? Apa pula macam macam konjungsi? Dan seperti apa contoh kalimat konjungsi? Bagi yang masih belum paham, kita akan membahasnya pada artikel kali ini.
Memahami mengenai konjungsi adalah hal penting dalam bahasa Indonesia. Sebab, konjungsi ini akan sering kita gunakan dalam membuat kalimat. Penggunaan konjungsi pun juga harus tepat sehingga kalimat yang dibuat tidak ambigu atau menimbulkan kerancuan.


Pengertian Konjungsi
Konjungsi juga sering disebut sebagai kata sambung. Pengertian konjungsi ini sederhananya adalah sambungan kata atau kata penghubung maupun perangkai yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, kalimat dengan kalimat, atau pun ungkapan dengan ungkapan.
Seperti apa bentuk konjungsi yang sering muncul? Beberapa contoh konjungsi yang sering digunakan misalnya : oleh karena itu, meskipun, sesungguhnya, walaupun demikian, sebagai tambahan, karena, sebab, sehingga, dan lain sejenisnya.
Pengertian konjungsi menurut pendapat lain ada pula yang menyatakan bahwa konjungsi adalah suatu kata yang dijadikan sebagai penghubung antarklausa atau antarkalimat atau antarparagraf. Adanya kata penghubung ini bertujuan agar kalimat atau klausa atau paragraf bisa terlihat lebih padu atau memiliki hubungan yang erat.

Macam Macam Konjungsi
Macam macam konjungsi yang dapat digunakan ada beberapa. Berikut adalah beberapa konjungsi antarkalimat beserta fungsi konjungsi tersebut. Berikut adalah macam macam konjungsi yang dilengkapi dengan contohnya.
  • Konjungsi yang menyatakan tentang suatu peristiwa, hal, atau keadaan yang terjadi di luar dari keadaan yang sebelumnya telah dinyatakan. Contohnya: lagi pula, selain itu, dan tambahan pula.
  • Konjungsi yang menyatakan tentang akibat. Contohnya: oleh sebab itu, oleh karenanya, maka.
  • Konjungsi yang menyatakan keadaan yang sesungguhnya. Contohnya: bahwasanya, sebetulnya, sesungguhnya.
  • Konjungsi yang menyatakan tentang pertentangan yang terjadi dengan pernyataan yang terletak pada kalimat sebelumnya. Contohnya: sungguhpun demikian, biarpun begitu, meskipun demikian, meski begitu, walaupun demikian.

Cara menggunakan konjungsi antarkalimat
Penggunaan konjungsi antarkalimat harus diperhatikan secara tepat. Misalnya saja, dalam penggunaan kata penghubung, ketika induk kalimat mendahului anak kalimat, maka tidak perlu disisipi dengan tanda koma (,).
Namun, apabila kata penghubung yang digunakan menunjukkan pertentangan, misalnya kata ‘tetapi’, ‘sedangkan’, maka pada kalimat tersebut perlu diberi tanda koma (,). Lalu, apabila anak kalimat diletakkan mendahului induk kalimat, maka di antara anak dan induk kalimat, diberi sisipan berupa tanda koma (,).
Lalu, bagaimana untuk mengetahui serta membedakan mana yang anak kalimat dan induk kalimat? Anak kalimat bisa dikenali dengan memahami ciri – ciri anak kalimat, yakni : tidak dapat berdiri sendiri, serta diawali dengan kata penghubung.
Sebagai catatan, jika subjek terdapat pada induk yang sama, maka subjek yang terletak pada anak kalimat tidak perlu diungkapkan. Agar lebih jelas, mari kita lihat contoh berikut:
* Lia selalu mendapat nilai baik pada matematika karena rajin belajar.
  • Lia selalu mendapat nilai baik pada (sebagai induk kalimat)
  • matematika karena rajin belajar (sebagai anak kalimat)

Mengenal Konjungsi Koordinatif
Dalam materi konjungsi, ada berbagai macam konjungsi yang dapat digunakan. Salah satu macam konjungsi tersebut adalah konjungsi koordinatif. Konjungsi koordinatif adalah kata penghubung yang digunakan pada kalimat – kalimat yang sederajat, atau sama -sama dari induk kalimat.
Berarti, kedua kalimat tersebut sifatnya tidak bergantung pada kalimat – kalimat lainnya. Konjungsi koordinatif ini masih terbagi lagi ke dalam beberapa jenis. Berikut adalah macam macam konjungsi koordinatif.

#1 Konjungsi kumulatif, adalah jenis konjungsi yang menunjukkan pada penambahan. Konjungsi yang termasuk dalam golongan kata hubung kumulatif, meliputi :
  • Dan
  • Dan juga
  • Dan juga, lagi pula
  • Di samping itu
  • Juga
  • Kedua
  • Lebih – lebih lagi, lagi pula
  • Selanjutnya
  • Selanjutnya, lagi pula
  • Seperti itu pula
Konjungsi kumulatif juga memiliki jenis khusus lainnya, yang dapat disebut konjungsi korelatif atau kata sambung korelasi. Kata sambung korelasi ini bisa digunakan secara berpasangan dengan konjungsi lain yang memiliki jenis berlainan. Beberapa jenis konjungsi korelatif ini antara lain:

  • Baik .... maupun....
  • Tidak hanya .... melainkan....
  • Dan ....sama – sama....

#2 Konjungsi alternatif, jenis konjungsi ini masih dibagi lagi menjadi dua, yakni konjungsi yang menunjukkan di antara dua pilihan, serta konjungsi yang menunjukkan adanya perbedaan yang kontras. Berikut penjelasannya.

2#1 Menunjukkan di antara dua pilihan. Konjungsi alternatif yang menunjuk pada pilihan antara dua hal ini menggunakan kata hubung alternatif, yang dapat berupa :
  • ...atau...
  • Atau, kalau tidak
  • Kalau tidak
  • Tidak/ bukan .... ataupun
  • Kalau tidak

2#2 Menunjuk pada perbedaan yang kontras. Konjungsi alternatif yang menunjuk pada hal yang kontras ini, dapat berupa :
  • Namun, tetapi
  • Sebaliknya
  • Cuma, hanya
  • Namun
  • Tetapi

2#3 Konjungsi illatif. Konjungsi illative ini digunakan untuk menunjukkan suatu kesimpulan. Kata hubung illative atau kesimpulan dapat berupa :
  • Oleh karenanya
  • Maka
  • Sebab itu, karena itu, karenanya
  • Jadi, karena itu, maka
  • Oleh karena itu
  • Atas alasan apa

#3 Konjungsi Subordinat
Fungsi konjungsi subordinat adalah untuk menghubungkan antara satu kalimat pokok dengan anak kalimat. Untuk anak kalimat yang diawali dengan konjungsi subordinat ini, maka tidak dapat berdiri sendiri, atau bergantung pada induk kalimatnya.
Jadi, anak kalimat tersebut harus bergantung pada kalimat pokok atau principal sentence atau main clause atau independent clause, serta tidak bergantung pada klausa lainnya. Agar lebih jelas, berikut adalah contoh konjungsi subordinat :

Kalimat pokok: Saya akan bekerja besok.
Kata sambung: jika
Anak kalimat: Saya telah menyelesaikan tugas.
Kalimat berkonjungsi subordinat : Besok saya akan bekerja jika telah menyelesaikan tugas.

Konjungsi subordinat ini pun masih dapat dibagi dalam beberapa jenis lagi, yang meliputi :

3#1 Kata hubung perkenalan, yang digunakan sebagai penunjuk pengantar atau sebagai perkenalan dan dipakai dengan menggunakan kata bahwa. Sebagai contoh : Nira bersumpah, bahwa dia tidak akan berbuat curang.

3#2 Kata hubung sebab atau alasan, yang digunakan sebagai suatu penunjuk sebab atau alasan dan digunakan dengan menggunakan kata ‘karena’. Sebagai contoh : Dila tidak dapat bermain karena kakinya sakit.

3#3 Kata hubung akibat atau pengaruh, yang digunakan untuk menunjukkan adanya akibat atau pengaruh mengenai suatu hal dengan menggunakan kata ‘sehingga’. Contohnya : Lusi berlari sangat kencang, sehingga membuat kakinya sakit.

3#4 Kata hubung tujuan atau maksud, yang digunakan untuk menunjukkan adanya maksud atau tujuan tertentu mengenai suatu hal dengan menggunakan kata ‘supaya’ atau ‘agar’. Contoh: Linda berlatih dengan giat, supaya mendapat nilai bagus.

3#4 Kata hubung waktu, yang digunakan untuk menunjukkan adanya suatu maksud atau tujuan tertentu terkait sesuatu hal, dan dengan menggunakan kata ‘segera setelah’, ‘selagi’, ‘selama’, ‘sebelum’, ‘hingga’, ‘sampai’, ‘setelah’, dan ‘sejak’. Sebagai contoh: Ibu akan ke toko, setelah memasak nasi.

Macam-macam Konjungsi Berdasarkan Fungsi
Macam macam konjungsi juga dapat dilihat berdasarkan pada fungsinya. Beberapa macam konjungsi berdasarkan fungsinya, meliputi :

1# Konjungsi Aditif (gabungan)
Konjungsi aditif juga dapat disebut sebagai konjungsi gabungan. Konjungsi jenis ini termasuk dalam konjungsi koordinatif yang berfungsi menggabungkan dua kata, frasa, klausa, atau kalimat yang memiliki kedudukan sederajat. Contohnya : dan, lagi, lagi pula, dan serta.

2# Konjungsi Pertentangan
Konjungsi pertentangan adalah jenis konjungsi yang menghubungkan dua bagian kalimat sederajat, tetapi dilakukan dengan mempertentangkan kedua bagian dari kalimat tersebut. pada bagian kedua, umumnya menduduki posisi yang lebih penting dibanding dengan bagian pertama. Sebagai contoh konjungsi pertentangan berupa : padahal, sedangkan, tetapi, akan tetapi, sebaliknya, melainkan, dan namun.

3# Konjungsi Disjungtif (pilihan)
Konjungsi disjungtif atau konjungsi pilihan digunakan untuk menghubungkan dua unsur yang sifatnya sederajat dan berfungsi agar memilih salah satu dari dua hal atau lebih. Sebagai contoh : maupun, atau, atau....atau, baik...baik..., dan entah...entah...

4# Konjungsi waktu
Konjungsi waktu adalah jenis konjungsi yang fungsinya untuk menjelaskan adanya hubungan waktu di antara dua hal atau beberapa peristiwa yang ada. Kata-kata konjungsi yang bersifat temporal menjelaskan adanya hubungan yang tidak sederajat atau pun sederajat.
Contoh konjungsi waktu untuk menghubungkan dua kalimat tidak sederajat, dapat menggunakan kata berupa : apabila, hingga, sementara, bilamana, sejak, selama, bila, sambil, ketika, sebelum, sesudah,sedari, seraya, setelah, semenjak, waktu, sampai, demi, dan tatkala.
Adapun contoh konjungsi waktu untuk menghubungkan bagian kalimat yang sederajat, dapat menggunakan kata, berupa : sebelumnya dan sesudahnya.

5# Konjungsi Final (tujuan)
Konjungsi final atau konjungsi tujuan adalah konjungsi yang sejenis modalitas untuk menjelaskan mengenai maksud dan tujuan suatu peristiwa atau tindakan. Kata-kata umum yang biasa dipakai menyatakan hubungan, dapat berupa : supaya, guna, untuk, dan agar.

6# Konjungsi Sebab (kausal)
Konjungsi sebab atau konjungsi kausal menjelaskan bahwa suatu peristiwa dapat terjadi dikarenakan oleh sebab tertentu. Pada kalimat berkonjungsi sebab, ketika ada anak kalimat yang ditandai dengan kata konjungsi ini, maka induk kalimatnyalah yang merupakan akibat.
Kata-kata yang umum digunakan menyatakan hubungan sebab, dapat berupa : sebab, sebab itu, karena, dan karena itu.

7# Konjungsi Akibat (konsekutif)
Konjungsi akibat atau konjungsi konsekutif menjelaskan bahwa suatu peristiwa dapat terjadi diakibatkan suatu hal yang lain. Anak kalimat dengan konjungsi ini dapat dikenali dari adanya konjungsi yang menyatakan akibat, sedangkan peristiwa yang dimaksud merupakan induk kalimat. Kata-kata yang umum digunakan pada konjungsi akibat dapat berupa : sehingga, sampai, dan akibatnya.

8# Konjungsi Syarat (kondisional)
Konjungsi syarat atau konjungsi kondisional ini menjelaskan bahwa suatu hal terjadi ketika adanya syarat -syarat yang disebutkan telah terpenuhi. Kata konjungsi syarat contohnya : jika, jikalau, asalkan, apabila, kalau, dan bilamana.

9# Konjungsi Tak Bersyarat
Kata penghubung atau konjungsi tak bersyarat digunakan untuk menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi tanpa harus memenuhi syarat - syarat. Contoh konjungsi tak bersyarat ini, dapat berupa : meskipun, walaupun, dan biarpun.

10# Konjungsi Perbandingan
Konjungsi perbandingan adalah jenis konjungsi yang fungsinya menghubungkan dua hal dan dilakukan dengan jalan membandingkan kedua hal tersebut. Contoh konjungsi perbandingan dapat berupa : seakan-akan, bagai, sebagai, seperti, bagaikan, umpama, ibarat, sebagaimana, dan daripada.

11# Konjungsi Korelatif
Konjungsi korelatif digunakan untuk menghubungkan dua bagian dari kalimat yang memiliki hubungan sedemikian rupa, agar kalimat yang satu dapat langsung berpengaruh terhadap kalimat lain atau satu kalimat melengkapi kalimat lain.
Contoh konjungsi korelatif yang dapat digunakan pada kalimat dengan menggunakan hubungan timbal-balik misalnya: tidak hanya….tetapi juga..., sedemikian rupa..., kian….. kian, bertambah……bertambah, sehingga..., semakin …..semakin, baik..., dan maupun.

12# Konjungsi Penegas (menguatkan atau intensifikasi)
Konjungsi penegas digunakan untuk menegaskan atau meringkas bagian -bagian yang terdapat pada kalimat yang sudah disebutkan sebelumnya, termasuk pada berbagai hal yang menyatakan rincian. Contoh konjungsi penegas, dapat berupa : bahkan, umpama, yaitu, apalagi, misalnya, yakni, ringkasnya, dan akhirnya.

13# Konjungsi Penjelas (penetap)
Konjungsi penjelas atau konjungsi penetap berfungsi untuk menghubungkan bagian kalimat yang terdahulu dengan perinciannya. Contoh konjungsi penjelas, dapat berupa : bahwa.

14# Konjungsi Pembenaran (konsesif)
Konjungsi pembenaran adalah konjungsi konsesif termasuk konjungsi subordinatif yang menghubungkan dua hal, dengan cara membenarkan atau mengakui terhadap suatu hal lain, sekaligus dengan cara menolak hal lainnya lagi yang ditandai konjungsi tersebut.
Pada kalimat dengan konjungsi ini, pembenaranya dinyatakan dalam bentuk klausa utama (induk kalimat). Adapun penolakan pada konjungsi tersebut dinyatakan dalam bentuk anak kalimat yang didahului konjungsi. Contoh konjungsi pembenaran ini, dapat berupa : meskipun, walaupun, ungguhpun, kendatipun, sbiarpun, biar, dan sekalipun.

15# Konjungsi Urutan
Konjungsi urutan digunakan untuk menunjukkan suatu kalimat menyatakan adanya urutan dari sesuatu hal atau peristiwa. Contoh konjungsi urutan, dapat berupa : lalu, mula-mula, dan kemudian.

16# Konjungsi Pembatasan
Konjungsi pembatasan digunakan untuk menunjukkan pembatasan yang dilakukan pada suatu hal atau dalam batas-batas dari suatu perbuatan yang bisa dikerjakan. Contoh konjungsi pembatasan, dapat berupa : kecuali, selain, dan asal.

17# Konjungsi Penanda
Konjungsi penanda digunakan untuk menyatakan terhadap penandaan suatu hal. Contoh konjungsi penanda, dapat berupa : umpamanya, misalnya, contohnya. Selain itu, ada juga bentuk konjungsi penanda pengutamaan, yang contoh konjungsinya dapat berupa : pokok, paling utama, dan terutama.

18# Konjungsi Situasi
Konjungsi situasi adalah konjungsi yang menjelaskan perbuatan tertentu yang terjadi atau berlangsung dalam keadaan atau kondisi tertentu. Contoh konjungsi situasi ini, dapat berupa : sedang, sedangkan, padahal, dan sambil.
Nah, selesai sudah penjelasan kita mengenai konjungsi, baik meliputi pengertian konjungsi, macam macam konjungsi, dan dilengkapi dengan contoh konjungsi dalam berbagai bentuk. Sudah jelas bukan penjelasan kali ini? Semoga bermanfaat dan selamat belajar ya.

Referensi:
Tim Guru Eduka. 2015. Mega Book Pelajaran SMA/MA IPA Kelas X, XI, dan XII. Depok: Cmedia.
Tim Guru Indonesia. 2015. Top No.1 UN SMA/ MA IPS 2016. Jakarta: PT Bintang Wahyu.
Tukan, P. 2007. Mahir Berbahasa Indonesia 3: Sekolah Menengah Atas Kelas XII Program IPA dan IPS. Jakarta: Yudhistira.